Gw barusan selesai nonton (lagi) film Joan of Arc: The Messenger, sebuah film yang masuk dalam daftar kecil film-film favorit gw. Film yang bagus dan panjang, cukup panjang sehingga di TV harus dipotong jadi dua bagian.
Film ini dibintangi oleh Milla Jovovich, yang juga salah satu artis yang mungkin masuk dalam daftar ‘preferensi’ gw. Maksudnya bukan gw ngefans sama Milla Jovovich, tapi sebagai artis yang memiliki background model ternyata Milla tidak takut untuk tampil jelek. Sudah beberapa film dia yang pernah gw tonton, dan walaupun gw gak bisa bilang bahwa semua karakternya bagus tapi enak juga lihat penampilan Milla yang berbeda-beda pada tiap film. Oke… mungkin ngefans, tapi dikit.
Joan Of Arc berkisah tentang Joan, seorang gadis yang melegenda pada saat perang antara Inggris dengan Prancis. Karena gw bukan sejarahwan, gw gak tahu jelas tentang latar setting perang yang diambil di film itu. Joan of Arc, yang juga dikenal sebagai Maid of Orleans pertama kali gw ketahui melalui game Age Of Empires. Oke, jadi pengetahuan gw tentang Joan ini tidak relevan dan gw justru akan lebih ngaco kalau gw pura-pura kasih tahu lebih banyak tentang Joan.
Waktu pertama kali nonton film ini beberapa tahun lalu, gw inget film dimulai sedikit banyak agak sketchy-sketchy gak jelas gitu maksudnya. Namun karena judulnya Joan of Arc, dan gw pernah main tokoh tersebut di sebuah game, ya.. gw nonton aja.
NOTE: Ya, gw termasuk orang yang rela nonton film yang gak jelas dengan harapan endingnya nyambung, kalo gak nyambung juga endingnya berarti (sekali lagi) gw sudah membuang waktu, dan sel-sel otak untuk berusaha mengerti film tersebut.
Tanpa bermaksud untuk memberikan spoiler kepada orang yang belum nonton, karena gw sangat menyarankan siapapun untuk menyaksikan film ini, gw mau memberikan sedikit komentar tentang film tersebut.
Walaupun gw sangat (sangat sangat sangat sangat dan sangat) meragukan tingkat akurasi dari film ini menggambarkan tentang Joan (terutama bagian akhir), tapi film ini masuk dalam favorit gw karena endingnya. Singkat kata, ending dari film ini menegasikan keseluruhan dari awal dan akhir film ini, dan waktu pertama kali gw menyaksikan film ini gw sangat terkejut dengan ending yang seperti itu.
Film ini memiliki pesan yang sangat relevan untuk jaman sekarang, terutama untuk banyak orang Indonesia yang (mengira) melakukan sesuatu yang baik, entah atas nama apa. Walaupun film ini diisi banyak sekali unsur-unsur keagamaan, namun sebenarnya pesan yang ingin disampaikan sangat universal dan tidak terbatas untuk keyakinan tertentu. Film ini pada akhirnya dapat memberikan ‘pencerahan’ (IMO), dan secara mengejutkan menjadikan film ini tidak hanya sebuah film yang diisi oleh darah, mayat, perang, dan banyak teriakan.
Anyway, ternyata ending dari film ini cukup memuaskan dan sekali lagi gw ketipu. Ada rasa seneng juga ternyata film ini diputar lagi di TV, mudah-mudahan banyak yang nonton dan bisa mengambil kesimpulan yang positif dari film ini.
1 response so far ↓
Floren // 29 Agustus 2008 pada 4:41 pm |
Paling suka waktu Jeanne bilang:
“It is not my body that I want to save. It’s my soul!”