Microsoft & OOXML

Isu yang lagi banyak belakangan ini di internet adalah Office Open XML (OOXML) yang diajukan oleh Microsoft kepada International Organization of Standardization (ISO) untuk menjadi standard dalam format dokumen.

Yang menarik adalah ternyata tidak banyak orang Indonesia yang awas/aware terhadap isu ini. Gw harap blog ini bisa dibaca untuk menambah informasi, atau sekedar update terhadap keadaan yang terjadi sekarang ini.

Pertama-tama, isu ini penting karena dengan trend yang sedang berkembang sekarang ini, masyarakat IT ingin menggunakan (atau bergerak menuju) format dokumen yang ‘open’. Dan dalam ‘big match‘ kali ini, ada dua kontestan utama yaitu ODF, yang diusung oleh OpenOffice.org dan OOXML oleh Microsoft Office.


Alasan kenapa format dokumen yang ‘open’ penting adalah untuk menghindari lock-in terhadap satu perusahaan. Istilah ‘lock-in‘ ini menggambarkan kondisi yang ada sekarang ini yaitu ketergantungan terhadap vendor, dan terjadinya efek upgrade-domino paket program Office (office suite) yang melanda konsumen.

Kita tahu dan sejarah sudah membuktikan bahwa dalam setiap versi baru Microsoft Office, Office menggunakan format file baru.. hal yang sebenarnya tidak diharamkan. Kalau dulu ada Word 97 Doc Format, lalu ada Word 2000 Doc Format, dan seterusnya. Sayangnya format baru ini tidak diikuti dengan backward-compatibility yang menyebabkan sebuah dokumen yang dibuat Word 2000 tidak bisa dibuka oleh Word 97, sama seperti format Word 2007 yang tidak bisa dibuka oleh Word 2003. Masalah backward-compatibility ini menyebabkan setiap orang yang memiliki office suite yang lebih lama tidak bisa membuka dokumen yang dibuat oleh office suite lainnya, walaupun masih satu vendor yaitu Microsoft.

Masalah ini menimbulkan fenomena ‘upgrade-treadmill‘ yang dapat artinya konsumen dipaksa untuk harus meng-upgrade Office nya –walaupun sudah cukup nyaman dengan versi yang ada dan tidak membutuhkan fasilitas-fasilitas yang ditawarkan oleh versi yang baru– karena kondisi sekitarnya memaksanya untuk upgrade, karena kalau menggunakan versi lama konsumen tidak akan bisa membuka dokumen dalam format file baru.

Alasan non-backward-compatibility ini karena Microsoft Office menggunakan format file biner (binary file format) yang tidak dapat dibaca –secara benar– oleh pihak eksternal karena deskripsi, struktur, dan definisi terhadap format file tersebut tidak diketahui oleh orang lain kecuali Microsoft. Perlu diketahui bahwa format file biner sedikit-banyak merupakan image dari internal program tersebut, karena file biner yang dikeluarkan oleh suatu program merupakan serialization dari data internal (records, string, integer, float, etc.) yang menyusun suatu dokumen. Karena Microsoft Office adalah closed-source, dan komersial, maka tidak mungkin dokumen yang dikeluarkan oleh Office akan dimengerti oleh office suite lainnya.

Inilah yang menjadi penyebab mengapa sekarang ini banyak orang –terutama pemerintah dari banyak negara– menginginkan suatu format dokumen yang interoptable, berkelanjutan, dan yang dapat digunakan tanpa khawatir lock-in. Lock-in menyebabkan konsumen sangat tergantung kepada satu vendor, yang berujung pada monopoli. Pemerintah tidak boleh bergantung pada satu vendor untuk menyimpan dokumennya, terlebih lagi apabila vendor tersebut memiliki tabiat untuk merubah format dokumen dalam setiap versi programnya.

OOXML ditawarkan sebagai solusi oleh Microsoft untuk menjawab trend “open” yang sedang melanda dunia IT. Sayangnya menurut artikel ini (bahasa Inggris), OOXML memiliki beberapa kelemahan (atau lebih tepat lagi ‘borok’) yang sangat tidak masuk akal, sehingga patut dipertanyakan sebenarnya apa yang dimaksud “open” oleh Microsoft.

Gw secara pribadi berharap OOXML yang disodorkan Microsoft (yang anehnya langsung rush untuk mengambil voting) kepada ISO ini masih akan diperbaiki lagi, seperti Vista (mungkin nanti ada “OOXML SP 1”? Kakakaka :-D). Walaupun sampai saat blog ini ditulis OOXML ditolak sebagai standard ISO walaupun (atau justru karena?) Microsoft sudah membayar vote dari para pemberi suara, gw harap kata “open” dalam Office Open XML benar-benar “open”.

BTW, bertentangan dengan keyakinan kebanyakan orang Indonesia, ternyata money politic juga ada di luar Indonesia.

Gw sendiri secara pribadi lebi condong kepada ODF, karena OOXML (dalam keadaannya yang sekarang ini) lebih melanjutkan strategi lock-in terhadap Microsoft dan justru lebih inferior daripada format binernya. OOXML yang dalam beberapa hal sama membingungkan dengan format biner justru membuat tujuan OOXML –sebagai format yang “open”– sia-sia.

Efek dari kejadian ini bagi Indonesia adalah akan lebih banyak orang yang bergantung terhadap Microsoft (walaupun sudah ada OOXML), yang pada ujungnya memberikan alasan terhadap pembajakan. Apabila Microsoft dapat melakukan taktik membiarkan pembajakan untuk mendapatkan market-share (lihat Windows NT vs. Novell), namun produsen software lokal tentu saja tidak bisa melakukannya karena tidak memiliki dukungan finasial yang kuat untuk ‘membiarkan’ profit-loss.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Pendapat gak penting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s