Tag Archives: vga

Cerita Sebuah VGA Card Baru

Latar Belakang

Beberapa hari yang lalu komputer tidak mau boot, selalu restart pada saat X seharusnya mulai. Saya coba boot ke Windows sama saja, selalu restart pada saat desktop seharusnya muncul. Aneh.

Pertama-tama saya check memory dulu pakai memtest+, tidak ada masalah katanya. Lalu saya coba membersihkan bagian dalam komputer, sama sekali tidak ada perbedaan. Setelah beberapa kali bongkar pasang casing komputer, di monitor muncul bintik-bintik membentuk garis vertikal pada saat BIOS booting. Sedikit lega, karena artinya kalau sudah begini masalahnya bukan dari software lagi.

Masalah di VGA Card

Sedikit browsing di internet, kesimpulannya ini gejala VGA card yang sudah sekarat. Saya cabut VGA card yang ada, PixelView nVIDIA GeForce 8600 GT (128-bit, 256MB) coba bersihin banyak debu yang sudah bersarang di kipasnya lalu coba pasang lagi. Setelah kira-kira empat kali cabut, bersih-bersih, dan pasang saya mulai berpikir mungkin ini saatnya untuk beli VGA card baru. VGA card ini sudah ada dari tahun 2007, sudah 4 atau 5 tahun nih, mungkin memang sudah saatnya dia diganti.

Saya pergi ke toko komputer langganan dan non-langganan terdekat untuk cari tahu harga VGA card yang ada. Dari empat atau lima toko komputer di daerah Pasar Lama, saya cuma ketemu tiga macam: merk Point of View 9xxx GT (lupa), PixelView GeForce 240 GT dan Radeon HD 6xxx (lupa). Cuma ada tiga pilihan? No thank you, mending cari-cari dulu deh di internet yang sesuai dengan budget. Ok, balik lagi ke rumah.

Hari itu adalah hari Sabtu, biasanya hari Sabtu dan Minggu adalah hari main Counter-Strike. Biasanya mulai begadang dari Sabtu pukul 11 malam non-stop sampai pukul 6 pagi di hari Minggu. Nah sekarang bagaimana mau main online? VGA cardnya sekarat begene!

Terpaksa deh main pakai laptop, meja jadi super ribet dengan kabel USB, VGA, LAN, audio, dan AC keluar dari laptop. Mana di laptop dipasang Deep Freeze lagi, jadi setelah install Counter-Strike jangan sampai keluar Windows, kalau restart semuanya akan hilang dan mesti install plus copy ulang config bermain saya dari komputer desktop. Oh Counter-Strike nights, the things that I do for you…

Mencari AlamatPengganti

Karena yang rusak ini merknya PixelView, dan yang sebelum yang ini saya juga pakai PixelView dan TV tuner juga merk PixelView, jadi untuk berikutnya saya cari yang merk PixelView juga, kalau ada. Tentu saja untuk VGA yang baru harus lebih baik daripada yang lama, jadi saya mencari yang lebih baik daripada 8600 GT. Walaupun saya tidak memanggil diri sebagai seorang gamer (lebih ke programmer sih), tapi ya setidaknya VGA-nya harus gak malu-maluin lah.

Soal pilihan jenis memory DDR2 atau DDR3 tidak masalah, saya sendiri gak tau bedanya dimana. Saya cari minimal 128-bit, kalau ada yang lebih baik dan masuk dalam budget silahkan, kalau gak ada juga gak masalah saya tetap di 128-bit. VGA card yang baru tentu harus sudah mendukung DirectX 10, sama seperti 8600 GT, dan bisa memainkan game-game mulai tahun 2010-an. Dari semua syarat, VGA card yang baru harus bisa dual-output soalnya saya pakai dua monitor. Untuk pilihan GeForce atau Radeon, sebenarnya saya sedikit condong ke GeForce kecuali kepepet, misalnya ditodong piso suruh beli Radeon :D.

Setelah cari-cari pilihan saya jatuh ke PixelView GeForce 220 GT (1GB 128bit DDR3), kalau menurut Vira Jaya di Mangga Dua waktu itu harganya kira-kira 468 ribu. Saya di Tangerang, jadi kalau dihitung lagi dengan cost transportasi ke Mangga Dua ternyata masih dalam budget belanja. So, off we go!

Orang Tangerang di Jakarta

Saya pilih ke Jakarta cara lama, naik bus, walaupun ada SIM (dan mobil) tapi belom berani bawa ke Jakarta.

  • Dari Tangerang pergi naik bus ke Senen, saya naik yang non-AC. Tobat deh, gak lagi-lagi, dari jaman kuliah sampe sekarang kalau namanya naik bus non-AC dari Tangerang ke Jakarta masih aja kayak begini, siang-siang selama kira-kira satu jam rasanya seperti ikan kalengan. Ongkos : Rp 3.000,-
  • Turun di terminal Senen, naik bus biru nomor M02 ke arah kota. Minta ke keneknya turun di Mangga Dua Mall. Sedikit lebih baik dari pada Tangerang – Senen, gak rame busnya. Ongkos : Rp 2.000,-

Dalam Mangga Dua Mall saya langsung ke toko Vira Jaya. Sedikit bingung dengan penomoran toko tapi akhirnya ketemu juga tokonya.

Kira-kira ada lima wanita muda di belakang etalase kaca pakai T-Shirt ngepas dengan badan yang melayani pembeli. Sekitar 5 orang lagi dibelakang meja, diantara tumpukan boks komponen komputer, ada yang sibuk dengan telepon, ada yang memperhatikan kertas, ada yang sedang sibuk pakai laptop.

Saya dilayani oleh wanita yang pakai baju kuning, dari perawakannya orang Jawa, dan saya mendapatkan kesan bahwa dia sendiri tidak terlalu mengerti komputer. Anyway, saya bilang saya mau VGA card, yang PCI Express, lalu dia kasih daftar harganya, persis seperti yang ada di internet. Saya cari item yang saya mau, tunjukkin ke dia, dia catat nama itemnya.

Setelah kira-kira lima menit liatin daftar harga, liatin yang jaga etalase, liatin orang-orang sekitar toko, dan liatin tumpukan boks komponen komputer dia balik lagi bilang barangnya gak ada, “kosong barangnya” begichu. Oh oke, saya tanya yang ada apa, dia bilang yang merk Biostar. Oke kembali lagi ke daftar harga kalau begitu.

Biostar GeForce GT 220

Jujur aja walaupun pernah denger motherboard merk ini, saya sebenarnya belum pernah pakai komponen merk Biostar. Sedikit ragu-ragu soalnya vendor ini unknown bagi saya dan karena saya di tokonya jadi gak bisa dong cari-cari review tentang merk Biostar di internet.

Karena meja saya sudah seperti kapal pecah, hari Selasa mesti lanjutin kerjaan, males bolak-balik Tangerang-Jakarta, akhirnya memberanikan diri untuk mencoba Biostar. Disini saya berharap pada garansi toko dan sedikit harap-harap cemas semoga VGA card yang ini ada dual-output.

Setelah kira-kira lima menit kembali liatin toko, liatin sekeliling toko, dan liatin daftar harga yang melayani saya datang dengan box VGA card. Saya tanya ke dia, ini bisa “dual-head” gak, mukanya sedikit berubah menandakan gak mengerti, saya gunakan istilah “dual monitor” dan akhirnya saya bilang kalau saya pakai dua monitor, akhirnya dia nyerah dan tanya ke bossnya. Dia bilang, bahwa bossnya bilang, tergantung komputernya bisa apa nggak.

Oke, saya minta boxnya dibuka.. lalu saya liat ternyata ada tiga output: DVI, VGA, dan HDMI. Oh oke, saya ambil. Saya kasih Rp 387.000,- lalu pulang.

Installasi VGA Card Baru

Saya lepas PixelView GeForce 8600 GT dari motherboard lalu pasang Biostar GeForce 220 GT di tempat yang sama. Pertama kali boot ke Linux, sudah tidak perlu install apa-apa lagi bisa langsung pakai. Casing komputer dipasang lagi, meja dirapihkan dari laptop dan kabel-kabel sisa begadang Sabtu-Minggu, kamar disapu dan pel biar bersih sekaligus.

Boot ke Windows dan harus install driver dari CD, makan waktu kira-kira 15 menit untuk install driver nVidia, minus nVidia Update (program apa ini??). Set driver untuk menggunakan konfigurasi dual-view, lalu saya lanjut test main Counter-Strike. Singkat kata, semuanya seperti sebelum waktu VGA card rusak.

Kesimpulan

Pertama-tama, harga VGA card mahal-mahal.
Kedua, naik bus dari Tangerang ke Jakarta masih seperti yang dulu. Kalau bisa pilih naik bus yang AC saja, ongkosnya memang Rp 6.500,- tapi jauh lebih nyaman.
Ketiga, kalau jualan komputer lebih bagus kalau pajang daftar harga di internet. Lo jualan, I lookup daftar harga you, kalau sepakat we do business lah.
Keempat, lewat pengalaman ini saya bisa mengatakan Linux sudah plug-and-play!

Leave a comment

Filed under Orang bego punya kegiatan